Skip to main content

Kopi Rasa Bencana


Oleh. MVP Dana Trifari

Bicara masalah kopi, hal yang mungkin tidak dinikmati Noyan. Wajahnya mulai datar ketika kata pertama ku lontarkan. Kopi. Tapi, seperti biasa tarik jiwanya hadirkan wujudnya maka Noyan adalah pendengar setia.

Jarum jam menunjukkan angka 2, dengan jarum panjang setia di angka 7 menunggu detik untuk melanjutkan perjalanannya. Matahari pun entah kenapa mengurangi frekuensi cahaya kebumi. Hingga suasana teduh memungkinkan pandanganku tidak terhalang kilau cahaya. Menatap sejauh apapun mudah, tanpa harus susah memicingkan mata. Suasana seperti ini yang biasa ku manfaatkan untuk menarik momen-momen yang berceceran, sendiri dalam rangkulan alam tanoh gayo.

Dataran tinggi punya kopi. Kata awal yang membuat mata Noyan meliar entah menatap apa. Emas merah punya tanah gayo. Punya ciri khas rasa yang kuat. Jujur, soal ini saya orang yang minim ilmunya. Tapi Joseph, barista dari negeri kangguru, yakin bahwa kombinasi rasa kopi gayo itu anugerah. Semua rasa kopi dari negara lain ada di kopi gayo.

Whateverlah, tentang kopi negara mana yang jitu, masih bisa mikmati kopi seminggu 5 kali, cukup. Bicara soal rasa kopi, tepat 1 jam yang lalu tanpa butuh berpikir keras. Kopi dengan rasa baru muncul dalam benak. Hanya karena guyonan teman-teman tapi menarik untuk dibuktikan.

Awalnya karena salah satu teman, tanpa sadar mungkin meletakkan ujung penanya di badan karung berisi gabah kopi. Karung dengan posisi yang tidak tegap, ternyata menyimpan investasi yang cukup besar. Gabah kopi dikemas dengan baik agar tidak menyerap zat lain, jelas yang punya kopi. 

Dikemas dalam plastik dulu, setelahnya masukkan lagi kedalam karung biar benar-benar terjaga kualitas rasanya, mungkin. Kalau ujung pena sempat melukai plastik, ditakutkan ada zat lain yang merasuki tubuh kopi. Menyerap zat yang beterbangan di alam adalah salah satu sifat kopi.
Menariknya, ilmu ini bisa dipakai untuk revolusi rasa kopi. Kulirik noyan, mencoba menarik pikirannya bermain dengan kataku. Tapi, paparan semenarik apapun, noyan tetap memilih tatapan lurus kedepan tanpa melirik sekalipun.

Karena kopi mampu menyerap zat apapun, pikiranku tertuju pada revolusi rasa kopi. Misalnya kopi rasa nikotin, karena terkontaminasi dengan asap rokok. Kopi rasa lavender, hasil kontaminasi dengan asap obat nyamuk. Atau kopi rasa bencana, kopi baru hasil dari terkontaminasinya kopi dengan angin buangan manusia.

Aneh tapi sebodoh apapun imajinasi atau mimpi harus ditindaklanjuti, pesan Bill Gate. Suara alam bercampur deru beberapa sepeda motor perlahan coba menerangkan kembali dunia nyata. Suara tawa terdengar di telingaku, isyarat kelucuan yang berasal dari mulutku sendiri. Bayangkan, kopi rasa bencana. 

Sementara TKT (teman kecil tersayang), Noyan tampaknya tidak sedikitpun tersentuh urat sarafnya. Tidak merespon stimulus yang coba ku alirkan. Noyan yang hanya dengan dirinya. Dan kali ini, lagi harus menikmati sendiri pikiran bersama kopi, rancangan rasa baru. Mulai meracik dalam kepala. Khususnya untuk kopi rasa bencana.

-o0o-

Catatn dari Admin :
Tulisan lainnya dari MVP Dana Trifari bisa dibaca di sini.

Comments

Popular posts from this blog

Aku Menulis Maka Aku Ada

Oleh. Fauraria Valentine “Jika kau bukan anak raja, bukan pula anak ulama besar. Maka menulislah” –Imam Al. Ghazali-  Kalimat yang menimbulkan ketertarikan, tentang arti dari menulis bagi diri. Namun tetap saja selalu butuh waktu untuk menjawab bila ada yang bertanya. Mengapa harus menulis? Entahlah mungkin agak sulit mengungkapkannya dengan kata-kata. Karena menulis adalah sala satu kegiatan yang mampu membuat adrenalin memuncak. Jantung memompa darah lebih cepat, membuat emosi meluap. Setiap orang mungkin punya cara yang berbeda untuk dapat menikmati sensasi seperti ini. Seperti halnya sulit menjabarkan rasa manisnya gula atau pedasnya cabai, maka cara terbaik untuk mengetahuinya adalah dengan mencobanya.

Kenduri Sastra 4

Image courtesy of Rasnadi Nasry Minggu, 31 Januari 2016. Tiga komunitas kepenulisan di Dataran Tinggi Gayo; Garis Tepi (Bener Meriah), Kompak (Takengon), dan FLP Takengon (Takengon), menggelar Kenduri Sastra 4. Kegiatan yang sering disebut dengan nama Kensas ini adalah kegiatan rutin yang diluncurkan sebagai bentuk kepedulian dan usaha untuk mengembangkan minat baca tulis di wilayah Dataran Tinggi Gayo (Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues.)

Arti Menulis dan Memilih Dimana Kita Berdiri.

Oleh. S. F. Asqar Menulis. Kesan dari kata yang berakar pada kata dasar 'tulis' ini sangat sederhana. Tidak rumit, aktifitas biasa. Dulunya melibatkan batu sabak, kemudian helai lepas kertas dan pena, lalu buku dan pulpen, setelah itu komputer dan papan kunci, dan yang terbaru adalah gawai sejenis ponsel pintar dan turunannya. Menulis. Hanya menyusun kata. Dan ternyata itu salah.